Link Banner

Menunggu Giliran

Fathi Yazid Attamimi
28 Juli 2015
--------------------------------------------------

Menunggu giliran

Di warung kebab, Mata sang mujahid basah oleh airmata. Pelupuknya digenangi air yang bening, Sebening hatinya yang rela meninggalkan anak istri nun jauh disana. Pertanyaan saya rupanya menyentuh hati, Membuka luka yang ia tahan bertahun-tahun ini

"Puluhan kawan saya syahid disini. Kawan akrab yang biasa berbagi bantal di tempat ribath, Berboncengan motor kemana-mana tempat, Dan kawan yang sama-sama meninggalkan keluarga demi berjihad

Satu-satu mereka pergi, Menumpuk luka diatas luka, Membuat saya ga bisa lagi bersedih. Karena hari ini satu syahid, Besok yang lain ikut syahid, Dan lusa lainnya juga syahid. Begitu terus 2 tahun ini

Padahal saya belum sempat bersedih untuk yang pertama. Untuk yang kedua pun belum. Sudah datang yang ketiga. Kemudian yang ke empat. Kelima. Keenam, Dan seterusnya..."

Saya berusaha keras menghayati, Tapi ga bisa. Saya coba merenungkan gimana rasanya berada di posisi beliau, Sayang tetap gagal

Ya, Pasti gagal. Karena saya belum pernah mengalami kepedihan yang beliau alami !

Beberapa kawan saya syahid di medan jihad Ambon dan Suriah. Diantara mereka ada yang pernah berbagi dua hari tiga hari pengalaman hidup. Tapi ga ada yang begitu akrabnya hingga harus ditangisi berhari-hari. Itupun sampai status ini ditulis masih ada sedih melintas saat mengingat mereka

Sedangkan mujahid muda di depan saya, Hari-harinya dipenuhi pergulatan melawan rindu. Rindu pada anak istri yang bertahun bertanya kabarnya. Juga rindu pada kawan-kawan yang telah pergi, Yang telah mengikatkan diri sedemikian rupa, Hingga ikatan itu tak mungkin terputus meski salah satunya tak lagi hidup di dunia

Maka saya kini makin paham kenapa Allah mengganjar para mujahid dan orang-orang yang syahid diantara mereka dengan ganjaran terbesar. Karena penderitaan mereka, Pengorbanannya, Kepedihan, Serta perjuangan yang dilakukan untuk membela Allah, Para penyembah-Nya, Dan nilai-nilai yang Dia turunkan ke muka bumi, Teramat agung untuk bisa dituliskan

Sebelum menutup sore itu, Mata sang mujahid menerawang. Tatapannya kosong, Menjangkau ke alam yang tak bisa saya lihat. Dari wajahnya terlukis senyum yang aneh. Damai tapi pedih. Ada rindu yang ia pendam ketika kemudian mengatakan

"Sekarang ini, Kalau mengingat mereka yang telah pergi. Saya merasa seperti sedang menunggu giliran..."

Rek Donasi Suriah dan Rohingya

Suriah
- MANDIRI : 900 0019 330 720 a.n IKRIMAH (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA : 1691 967 749 a.n IKRIMAH (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI : 0029 0110 999 7500 a.n IKRIMAH (Kcu. Cik Ditiro, Yogyakarta)
- BNI : 0317 563 523 a.n IKRIMAH (Kcp. Parang Tritis, Yogyakarta)

Rohingya
BRI : 0178 0100 6069 504 a.n Said Anshar

JazakumUllah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum

0 Response to "Menunggu Giliran"

Posting Komentar